Selasa, 15 Maret 2016

ORANG TUA HANYA TAHU YANG ITU-ITU SAJA.



Ada anak yang sudah terlihat bakat negosiasinya. Selalu berhasil membujuk untuk mendapatkan yang ia inginkan. Mungkin kelak ia bisa menjadi seorang pebisnis hebat. 

Ada anak yang sudah terlihat bakat berceritanya. Merangkai-rangkai khayalannya dan membuat cerita yang berkesan. Mungkin kelak ia bisa menjadi seorang novelis ternama 

Ada anak yang sudah terlihat bakat pengelihatannya. Memadu padan warna dengan begitu serasinya. Mungkin kelak ia bisa menjadi seorang desainer handal. 

Ada anak yang sudah terlihat bakat bergeraknya. Menirukan berbagai gerakan tubuh dengan begitu presisinya. Mungkin kelak ia bisa menjadi seorang aktor terkenal. 

Ada anak yang sudah terlihat bakat bertemannya. Jika ia bilang “lebih bagus begini”, semua teman-temannya akan dengan suka cita mengikutinya. Mungkin kelak ia bisa menjadi seorang pemimpin yang dicintai.

Begitu banyak hal-hal hebat yang ada dalam diri anak-anak kita. Yang jika kita berikan mereka kesempatan, mungkin akan menjadikan mereka bintang-bintang kehidupan. Sayangnya kita sebagai orang tua hanya tahu yang itu-itu saja. “Nak, besok Mama daftarkan kamu les privat Matematika ya. Mama ingin nilai matematikamu harus diatas KKM. Dan ingat ya, Mama ingin kamu harus jadi dokter seperti Mama!”

Senin, 14 Maret 2016

TINGGALKAN SEKOLAH SEBELUM TERLAMBAT!


Tentu saja judul buku diatas menarik perhatian saya saat pertama kali melihatnya di rak sebuah toko buku. Judul yang sangat provokatif! Bayangkan, saat semua orang mengatakan bahwa pendidikan adalah jalan emas bagi masa depan, judul buku ini malah mengajak orang untuk meninggalkan sekolah.  James Marcus Bach, penulis buku ini adalah seorang anak muda berusia 24 tahun yang memiliki karir cemerlang sebagai manajer pengujian Software di Apple Computer. James yang memiliki segudang pengalaman dan port folio di bidang pengembangan software ini bahkan tidak lulus SMA. Hebatnya, ia berhasil menembus rimba Sillicon Valley di usianya yang masih sangat belia setelah mengembangkan sebuah konsep pendidikan yang unik bagi dirinya.

Saat awal membaca buku ini, kita akan dikejutkan oleh banyak sekali pandangan yang terkesan ‘nakal’ dan mendobrak pakem. Suatu saat James diundang di sebuah sekolah SMA untuk memberikan ceramah motivasi di depan ratusan siswa. Si kepala sekolah dan para guru di sekolah tersebut dibuat kebakaran jenggot saat James mengatakan kepada para siswa bahwa sekolah itu tidak penting. Ia mengatakan “Kalau kalian tidak bahagia di sekolah, tinggalkanlah tempat ini. Sekolah hanya membuang waktu”. Kalimat seperti ini hanya sedikit contoh dari kalimat ‘motivasi’ James kepada para siswa. Saya tidak bisa membayangkan jika pembicaraan itu ia katakan di depan siswa SMA tempat sekolah saya dulu pasti gaduh luar biasa karena banyak siswa yang bertepuk  tangan gembira.
  
Setelah membaca keseluruhan buku ini saya baru menyadari bahwa James benar. Ia sebenarnya tidak hendak mengajak orang untuk meninggalkan sekolah, namun mengajak orang untuk meninggalkan paradigma yang salah tentang pendidikan. Menurutnya pendidikan bukanlah mengumpulkan setumpuk fakta. Bukan pula jam-jam yang kita habiskan diruang-ruang kelas, atau bagaimana kita menjawab pertanyaan-pertanyaan ujian. Pendidikan bukan indoktrinasi, atau mempercayai begitu saja apa yang dianggap penting dan tidak penting. Bagi James, pendidikan adalah tentang memunculkan “anda” melalui proses pembelajaran yang anda lakukan. Pembelajaran yang seharusnya datang dari dalam diri anda bukan datang dari keterpaksaan menjalani serangkaian kurikulum dan silabus pembelajaran.

Sayapun baru menyadari selama ini paradigma kita tentang pendidikan telah begitu dibatasi oleh sekolah. Kita mendefinisikan pendidikan sebagai sekolah. Sekolahlah bagi masyarakat kita adalah satu-satunya entitas yang mewakili maksud dari pendidikan. Coba saja tanya sama para orang tua yang menghome-schoolingkan anaknya, mereka pasti sering dibombardir dengan pertanyaan orang sekitar mereka  “Mau jadi apa anaknya nanti?”. Saat menggambarkan tentang pendidikanpun kita langsung membayangkan keharusan kita mendatangi sebuah gedung yang di dalamnya ada kepala sekolah, guru, rangkaian mata pelajaran, ujian semester, nilai, ijasah dan seterusnya. Semua realitas tentang sekolah kita telan bulat-bulat sebagai keharusan dan satu-satunya kebenaran tentang pendidikan. Orang yang tidak mengenyam sekolah kita anggap orang yang tidak berpendidikan. Sebaliknya orang yang pernah bersekolah kita anggap pasti orang yang berpendidikan.  

James Bach ingin mendobrak semua itu. Ia mengatakan bahwa pendidikan jauh lebih penting dan berharga ketimbang sekolah itu sendiri. Pendidikan adalah proses belajar kapanpun, dimanapun dan dengan cara apapun. “Kita seharusnya memiliki sistem untuk mendidik diri kita sendiri tanpa peduli harus pergi ke sekolah atau tidak dan mendorong diri kita menemukan passion di dalam diri kita” begitu katanya. Ia menganggap selama ini sekolah terlalu bertumpu pada standarisasi dan menghilangkan kegembiraan belajar. Seharusnya sekolah bisa menjadi tempat dimana siswa menemukan kegairahan belajar. Tapi apa yang terjadi dengan pendidikan di sekolah adalah siswa menganggap pendidikan merupakan sebuah beban yang harus mereka pikul. Mereka terjebak dalam sebuah frame bahwa belajar adalah untuk mencari nilai ijasah dan untuk masa depan yang cerah. Tanpa sekolah tak mungkin ada masa depan. Kegembiraan belajar digantikan dengan keharusan belajar. Padahal kita tahu, seluruh pencapaian besar harus ditenagai oleh energi yang begitu besar. Dan energi itu hanya bisa di dapat dari kegembiraan belajar itu sendiri. Sedangkan energi keharusan hanya mampu mengangkat seseorang pada level standar

Dalam konteks James Bach, kita bisa membayangkan dengan membuat perbandingan kira-kira mana yang paling efektif proses belajarnya. Seorang siswa yang dipaksa mengikuti mata pelajaran kalkulus untuk memenuhi standar nilai evaluasi belajar atau seorang anak yang sangat ingin mempelajari cara mengembangkan sebuah software sehingga ia tertarik memahami kalkulus. Saya yakin anak yang kedua akan menemukan kegembiraan belajarnya. Tidak heran James Bach sangat menyukai ‘kalkulus’ walaupun ia membeneci ‘mata pelajaran kalkulus’.

Kedepannya nanti orang-orang sejenis James Bach akan semakin banyak bermunculan.  Duniapun semakin menghargai orang-orang seperti mereka yang mampu memperlihatkan hasil belajarnya dalam bentuk prestasi dan port folio yang lebih real ketimbang lembaran ijazah yang kadang tidak relevan menggambarkan kemampuan individu. Setelah membaca buku ini saya jadi tidak lagi heran ketika mendengar berita seorang anak muda Jepang bernama Kenji Eno yang tidak lulus SMA, bosan sekolah dan memutuskan berimajinasi sendiri dengan membuat software-software games. Anak muda ini berhasil mendirikan perusahaan games kelas satu bernama WARP yang mendunia hingga dijuluki ‘God of the game market’.

Kamis, 10 Maret 2016

HEDONIC TREADMILL

Suatu hari saat jalan-jalan sore bersama istri saya, kami melihat kerumunan orang mengagumi beberapa motor gede berharga ratusan juta yang dipamerkan di tengah plaza sebuah mall. Istri saya bilang “Wah, ayah ganteng banget tuh kalau naik motor kaya gitu” Tentu saja istri saya hanya bercanda, karena dia tahu naik kendaraan apapun sebenarnya suaminya sudah ganteng (..ehm). Seperti biasanya saya selalu menjawab “wah.. nggak minat tuh”

Sebenarnya istri saya sudah tahu kalau beberapa tahun terakhir saya sudah kehilangan daya tarik pencapaian materialistik model diatas. Tidak seperti beberapa tahun sebelumnya yang selalu punya impian ingin beli barang-barang branded, motor dan mobil mewah, rumah impian dan berbagai barang-barang yang menunjukan keberhasilan pencapaian hidup. Seminar-seminar bisnis multilevel yang khas menampilkan orang-orang dengan keberhasilan materi berlimpah hanya dalam beberapa tahun pun dahulu begitu menggoda saya. 


Sebenarnya tidak ada yang salah menjadi orang yang kaya raya. Bahkan sampai hari inipun saya masih bercita-cita jadi orang kaya (bahkan super kaya raya). Namun perubahan paradigma terjadi setelah saya membaca sebuah tulisan yang mencerahkan berjudulHedonic Treadmill”. 


Kita pasti pernah melihat atau bahkan berlari diatas mesin treadmill untuk berolahraga. Waktu zaman saya kecil dulu mesin ini masih manual dan belum ada motor elektriknya sehingga semakin cepat kita berlari semakin kita dipaksa mengikuti kecepatan mesin tersebut. Orang-orang yang menaiki mesin Hedonic Treadmill seperti masuk dalam perangkap materialisme yang tidak pernah terpuaskan dan dijamin sulit menggenggam kebahagiaan yang sejati. Sudah punya kendaraan satu ingin dua. Punya jam mewah satu ingin koleksi yang lain. Lihat teman beli tas branded, ingin ikut memilikinya. Tidak lama setelah beli kita pun menginginkan tas model lain. Begitu seterusnya. Semakin cepat kita berlari semakin tidak terkejar apa yang kita inginkan. 


Saya pernah mengalami masa-masa ini. Barang-barang yang sudah dibeli hanya membuat bahagia paling lama 3-6 bulan. Barang-barang yang saya idam-idamkan hingga tidak bisa tidur, setelah dimiliki tidak mampu membahagiakan lagi. Sayapun berburu barang-barang yang lebih bertenaga lagi untuk menumbuhkan semangat kebahagiaan dalam diri. Tetapi setelah di dapat, lagi-lagi kebahagiaan menguap begitu cepat. Begitulah rasanya berada diatas mesin ini. Apa yang sudah kita dapatkan membuat kita semakin sulit berhenti karena mesin treadmill  bergerak semakin cepat.


Menjalani kehidupan di kota besar seperti menjalani sebuah kompetisi materi yang jika tidak diwaspadai akan menyeret kita masuk ke atas mesin Hedonic treadmill. Tuntutan sosial dari lingkungan sekitar untuk tampil “sukses” sering membuat kita hidup dalam skenario orang lain dan sulit menjadi diri sendiri. Saat teman-teman kita mengupload foto-foto trip perjalanan keliling dunianya di media sosial kitapun mulai menyelipkan sebuah perasaan tidak nyaman di dalam hati. Merk-merk motor dan mobil terbaru terus salip menyalip memenuhi jalan raya, membuat kendaraan yang belum 5 tahun kita beli jadi terlihat kuno desainnya. Iklan-iklan di TV pun seperti ingin mengatakan apa yang kita miliki dirumah sudah jelek dan usang. Begitulah tanpa kita sadari perlahan-lahan kebahagiaan hidup mulai terenggut.


Saya jadi teringat kata-kata Gede Prama “Uang, harus diakui, memang sejenis energi kehidupan. Namun tanpa kemampuan mengelola yang memadai, ia menjadi kuda yang minta digendong. Disamping berat, juga membuat sang hidup meneteskan air mata di sepanjang jalan”


Setelah memahami betapa mesin ini bisa mencuri kebahagiaan hidup, sayapun memutuskan untuk berhenti menaiki mesin ini dan belajar mensyukuri apa yang sudah saya miliki. Saya menyortir kembali satu per satu mana yang sebenarnya ‘kebutuhan’ dan mana yang ‘keinginan’. Tidak mudah memang. Butuh disiplin tinggi untuk selalu menasehati diri. Untungnya saya memiliki istri yang punya value sama dalam memandang materi. Suatu hari dia pernah shock saat mendengar ada temannya yang menjual tas atau kaca mata bermerk seharga jutaan rupiah. Padahal menurutnya ia sulit membedakan kualitas mana yang mahal dan mana yang biasa saja kecuali dari logo merknya. Saat harus belanja bulanan di supermarket, ia juga kelihatan tidak fanatik harus membeli merk tertentu. Kalau saya perhatikan, ia lebih senang memilih merk apapun yang murah tapi cukup bagus dan ada tulisan “BERHADIAH PIRING CANTIK!”.

Rabu, 09 Maret 2016

BUMI, BULAN DAN MATAHARI

Suatu hari sekelompok siswa kelas 4 SD mendengarkan penjelasan guru mereka saat pelajaran IPA berlangsung. Anak-anak mendengarkan dengan tenang. Ibu guru mulai menerangkan beberapa fakta yang harus dihafal anak-anak tentang perbedaan antara rotasi dan evolusi bumi dan bulan. “Tolong ya anak-anak, harap kalian hafal baik-baik karena akan keluar di ujian semester nanti!”. 

Malam sebelum ujian, anak-anak menghafal pelajaran tersebut. Budi siswa paling ‘pintar’ di kelas itu kelihatan sangat percaya diri karena sudah bisa menyebutkan satu per satu definisi rotasi dan evolusi bumi atau bulan mirip seperti di buku (bahkan sampai titik komanya). Melihat caranya menghafal kita semua pasti yakin kalau Budi besok pasti dapat nilai 10. Tidak heran ia selalu rangking 1 di kelasnya.

Lain lagi dengan Joni, anak yang dikenal dengan kecerdasan yang ‘biasa saja’ di kelas. Ia kelihatan bingung dan minta tolong ayahnya untuk dijelaskan ulang perbedaan rotasi dan evolusi. Ayahnyapun heran bagaimana mungkin anaknya tidak memahami konsep sederhana ini bahkan setelah ia mendemonstrasikanya berulang-ulang dengan bantuan bola-bola mainan. Dengan sabar ayahnyapun bertanya “Apa yang membuat kamu tidak mengerti nak?”. Joni pun menjawab: “Aku tidak ngerti yah. Kalau memang bulan itu berputar pada porosnya dan ia juga berputar mengelilingi bumi, dan bumi juga berputar pada porosnya dan ia berputar mengelilingi matahari, lalu kenapa setiap aku melihat bulan, kok yang terlihat hanya permukaan yang itu-itu saja??” Ayahnya pun terbengong. Ia baru sadar kalau bulan memang selalu menampakan permukaan yang itu-itu saja dan ‘enggan’ menampakan wajahnya yang lain. Iapun berpikir bagaimana mungkin saya tidak pernah kepikiran? 

Menurut anda siapa yang sebenarnya lebih cerdas, Budi atau Joni? Saya yakin anda pasti menjawab Jonilah yang lebih cerdas. Sayangnya tidak dengan sistem sekolah kita. Dari tingkat SD hingga perguruan tinggi, sistem pendidikan kita lebih menghargai seseorang dari kemampuan menjawab soal-soal yang sudah ada jawabannya di buku ketimbang bertanya dan menemukan hal-hal baru yang tidak ada di buku. Kita selalu diajarkan untuk menjawab soal, bukan ‘bertanya’ dan ‘mempertanyakan jawaban’. Jangan heran betapa banyak mahasiswa yang bingung saat disuruh bertanya dosennya. Merekapun bingung “mau tanya apa?”. 

Salah satu teman saya yang guru juga pernah bercerita waktu ia ingin merubah metode mengajarnya dimana ia meminta siswa aktif belajar dengan cara bertanya, ia malah ‘mati gaya’ karena tidak ada satu siswapun yang mau bertanya. Akhirnya ia kembali mengajar dengan metode ceramah. 

Menurut saya menuntut ilmu bukanlah menghabiskan jam-jam di ruang kelas untuk mengumpulkan fakta-fakta yang harus dihafal diluar kepala. Lebih dari itu menuntut ilmu adalah  mengungkap apa yang menjadi rasa ingin tahu atau rasa penasaran kita. Bahkan jika itu hanya penasaran ingin mengetahui hal-hal yang kedengaran konyol seperti bertanya:
  • Jika kita berkendaraan lebih cepat dari kecepatan suara, mungkinkah kita bisa mendengarkan suara radio
  • Bila udara panas selalu naik keatas, mengapa hawa dipegunungan terasa dingin?
  • Jika semua orang di bumi melompat secara bersamaan, apakah orbit bumi akan berubah?
  • Mengapa di cermin bisa terbalik arah kiri dan kanan tapi tidak terbalik arah atas dan bawah?
  • Bisakah kita mengoperasikan mesin penghisap debu di ruang hampa?

Semua ilmuwan besar lahir dari kegembiraan mereka akan rasa penasaran dan ingin tahu. Bahkan sekalipun itu terlihat konyol dan lucu. Newton penasaran mengapa buah apel jatuh ke bumi. Kalau Newton mengungkapkan pertanyaan itu kepada kita, mungkin kita akan menjawab “Sudah dari zaman nabi Adam juga begitu kali!’. Tapi apa yang terjadi? Hey, Newton menemukan hukum gravitasi!.  Socrates bahkan pernah bertanya kepada seseorang yang mau pergi ke pasar “Mengapa anda harus pergi ke pasar? Mengapa anda harus berjualan? Mengapa anda harus memenuhi kebutuhan hidup anda?” hanya untuk memenuhi rasa ingin tahunya. Suatu hari ketika si jenius Einstein ditanya seseorang tentang definisi kecepatan suara. Einstein menjawab “Wah saya lupa, kamu cari saja jawabannya di buku. Saya tidak mau memenuhi kepala saya dengan fakta-fakta yang sudah ditemukan manusia!”  

Di sekolah anak-anak disuguhi dengan ‘paket-paket pengetahuan siap saji’ yang harus mereka telan bulat-bulat. Sedikit sekali proses kreatif dan kritis disitu. Coba tanya berapa banyak anak sekolah (bahkan mahasiswa) yang datang ke ruang kelas dengan beribu-ribu tanda tanya di kepala mereka? Anak-anak yang datang dengan sejuta rasa penasaran ingin mengungkap apa yang mereka tidak tahu? Hampir tidak ada! Mereka belajar hanya untuk mendapatkan selembar ijazah dan gelar. Mereka memasukan sebanyak-banyaknya fakta di buku ke dalam kepala mereka dan memuntahkannya saat ujian. Seminggu setelah ujian berlalu, hilanglah semua fakta itu.

Disinilah seharusnya sistem pendidikan kita mulai merubah orientasi berpikir mereka. Dari penghargaan ‘menjawab soal teks’ menjadi penghargaan ‘menemukan pertanyaan’. Itulah kenapa saya senang saat beberapa hari lalu dosen saya memberikan nilai bukan dari jawaban mahasiswanya, tapi dari pertanyaannya. Bagi saya ini terobosan hebat. Seperti ungkapan yang mengatakan “Nilailah seseorang dari pertanyaan-pertanyaannya”

Senin, 07 Maret 2016

MENGAPA KESASAR ITU PENTING


Beberapa bulan lalu saya dan teman-teman di Green White Academy memulai sebuah program pelatihan terbaru kami bernama “LOST IN THE CITY”, sebuah program pelatihan berbentuk competition game untuk pembentukan karakter dan lifeskills bagi siswa SMP-SMA.  Mereka kami ajak berangkat ke Singapura untuk mengalami sebuah pengalaman baru : “TERSESAT DI TENGAH KOTA!”

Saya bawa mereka ke negara ini pun ada maksudnya. Selain karena faktor keamanan dan jarak yang tidak terlalu jauh, saya juga ingin mereka belajar bahwa sebuah negara yang besarnya cuma seupil dan hampir tidak punya sumber daya alam ini ternyata juga bisa jadi negara maju karena mereka punya capital yg sangat mereka bangun yaitu : manusia. Disinilah siswa harus menyadari tentang pentingnya membangun kualitas diri mereka untuk memasuki era ekonomi digital yang ekstrim karena semakin terbatasnya sumber daya alam bagi mereka di masa depan. Satu-satunya yang harus mereka andalkan adalah sumber daya manusia. 

Inilah modal besar yang selama ini kita lupakan. Coba saja tes. Setiap kita ditanya apakah Indonesia adalah negara yang kaya? Kita semua pasti akan jawab dengan 100% yakin bahwa Indonesia adalah negara yang kaya raya. Tapi jika ditanya lebih lanjut apa alasannya? Jawaban kita hampir selalu bicara tentang sumber daya alam yang melimpah ruah. Mulai dari gas alam, timah, emas, kelapa sawit, karet, kopi, dan sebagainya. Tidak ada satupun dari kita yang berani menjawab bahwa kita kaya raya karena kita punya 250 juta manusia!

Balik lagi ke program kesasar di tengah kota tadi. Saya mengajak anak-anak ini datang kesana untuk sebuah perubahan pola pikir. Mereka akan dikelompokan menjadi beberapa kelompok lalu diberikan beberapa ‘misi khusus’ selama tiga hari disana. Di pelatihan ini hampir tidak ada teori, tidak ada modul dan hampir tidak ada materi yang disampaikan. Semua isi pelatihan ini hanya bicara tentang problem solving and decision making!! …… What you think and what you decide! Disinilah proses kematangan berpikir mereka dilatih

Mereka harus menjalani beberapa project yang menantang untuk dipecahkan. Mereka harus pergi dari satu tempat ke tempat lain, bertemu dengan orang-orang yang tidak mereka kenal, meminta bantuan orang yang mereka tidak tahu, mencari sendiri rute perjalanan, memilih sendiri moda transportasi dan menyelesaikan berbagai tantangan seperti : mencari orang dari berbagai identitas kultur dan pekerjaan, mencari narasumber hingga membuat video liputan jurnalistik, mencari guru untuk belajar bahasa tertentu yang mereka belum pernah dengar,  menyeberang ke Malaysia untuk magang pekerjaan, mencari peluang dan partner bisnis, menggaet calon investor, melakukan business pitching dan masih banyak lagi. 

Semua mereka lakukan bersama tim mereka dan tanpa petunjuk  dan bantuan dari kami . Mereka juga harus menyelesaikan itu semua dengan sumber daya yang terbatas. Mereka harus memanage sendiri konflik diantara mereka dan memutuskan apa pilihan keputusan yang harus mereka ambil. Fasilitator pendamping pun hanya boleh mendokumentasikan, tidak boleh membantu dan mempengaruhi keputusan mereka. They have to decide! Di hari terakhir akan ada Champion Team yang keluar sebagai pemenang dan disitulah kami akan mendiskusikan proses pembelajaran yang sebenarnya terjadi dalam diri mereka.

Pertanyaannya kenapa kami melakukan training seperti ini? Saya yakin kita semua pernah mengalami kesasar atau harus berada disebuah tempat yang kita tidak kenal, dengan orang-orang yang tidak familiar, dengan situasi yang serba meraba-raba dan dengan sumber daya yang serba terbatas. Nah, pada saat kita kesasar itu sebenarnya kita berada di sebuah area baru bernama UNCOMFORT ZONE!

Area ini mirip seperti sebuah tempat di malam hari yang gelap tanpa lampu. Dimana kita harus mengaktifkan semua panca indera kita agar tidak menabrak sana-sini. Menggunakan insting dan kecerdasan kita untuk menemukan jalan. Meningkatkan kemampuan observasi kita agar bisa mengkoneksikan sumber daya-sumber saya yang kita miliki. Dan menajamkan intuisi kita untuk menemukan kesempatan dan peluang-peluang baru.

Di area uncomfort zone ini juga kecerdasan emosi kita harus kita tarik daya elastisitasnya. Karena di area baru ini kita akan mengalami berbagai campuran emosi. Mulai dari perasan ragu, takut, panik, gregetan, mudah marah dan sebagainya. Karena di area ini biasanya kita akan membuat kesalahan lebih besar dan lebih sering.

Inilah area yang tidak disukai kebanyakan kita karena sangat tidak nyaman. Kita lebih senang memilih menjadi seorang passenger (penumpang) ketimbang jadi seorang driver. Passenger yang tinggal duduk, bahkan bisa tidur sepanjang jalan tanpa harus berpikir dan mengambil resiko. Sementara driver harus selalu membuka mata dan mencari jalan. Driver juga harus mengambil resiko. Belum pernah ada penumpang mobil ditangkap karena mobilnya menabrak orang sampai tewas. Sopirnyalah yang akan ditangkap. Menjadi driver adalah mengambil tanggung jawab lebih besar dan mengekspos diri terhadap resiko.

Inilah yang membuat kebanyakan kita lebih senang bermain aman. Bukan bermain untuk menang, tapi bermain untuk tidak kalah. Permainan mencari aman ini kita nikmati dan wariskan turun temurun. Yang lebih mengerikan, pada titik tertentu permainan mencari aman ini akan sampai ke permainan‘menuntut’ jika kenyamanan kita mulai terusik. Jangan heran kalau makin hari makin banyak orang yang teriak-teriak di jalan menuntut supaya disediakan gaji yang lebih tinggi lagi , jaminan kesehatan yang tanpa batas, harga-harga yang harus terus di subsidi dan masih banyak lagi. Mereka sama sekali bukan orang miskin. Para pemain aman ini juga banyak yang selalu marah-marah tentang pekerjaannya, bosnya, gajinya dan seterusnya. Tapi kalau ditantang kenapa tidak pindah cari kerja ditempat lain, jawabanya selalu mudah di tebak “Habis mau kerja dimana lagi?”.

Ini semua karena kita tidak terdidik untuk menciptakan peluang-peluang dan masa depan kita sendiri. Kecerdasan melihat peluang kita sangat lemah karena kita tidak biasa menempatkan diri kita pada "edge of chaos" dan "push our self to the limit". Cara orang-orangtua kita mendidikpun sama. “Nak sekolah yang rajin, biar nanti jadi pegawai negri!”

Sebetulnya, pada saat kita tersesat dan berada di area uncomfort zone, kita akan mengembangkan potensi terbesar di dalam diri kita. Kita akan menjadi lebih cerdas dan menemukan banyak hal-hal baru, ide-ide baru, peluang-peluang baru dan jalan keluar baru. Dalam situasi seperti ini kita akan mengembangkan kemampuan mencari alternatif jawaban. THINK THE UNTHINKABLE THINGS!

Minggu, 06 Maret 2016

HUJAN BERLIAN DI RUMAH KITA


Suatu pagi anda bangun dan mendengar suara hujan diluar rumah. Ada yang berbeda dari suara hujan pagi ini. Anda membuka jendela dan melihat keluar. Hujan apa ini? Kenapa diluar tetangga anda begitu ramai bersorak sorai gembira menyambut hujan? Andapun menyalakan TV di kamar anda dan segera mencari stasiun berita. Hampir semua stasiun TV memberitakan fenomena alam yang sangat aneh hari ini “HUJAN BATU BERLIAN TERJADI HAMPIR DI SELURUH DUNIA”. Andapun langsung loncat dari tempat tidur anda dan membangunkan seluruh anggota keluarga. Dengan penuh semangat anda mengajak seisi rumah untuk bergabung dengan tetangga-tetangga anda di luar sana, mendulang berlian. Anda begitu bersemangat mendulang berlian-berlian ini dan berpikir sebentar lagi anda akan kaya raya. Namun baru sepuluh menit anda menyeroki berlian, tiba-tiba ada alarm yang berbunyi di otak anda. Anda menyadari suatu hal: jika hari ini hampir di seluruh dunia terjadi hujan berlian, berarti semua berlian-berlian ini tidak ada lagi harganya!

Cerita ini terasa pas bagi saya untuk menggambarkan era digital yang ada di hadapan kita sekarang ini. Kita semua merasakan betapa hari ini kita dihujani informasi dengan begitu derasnya sehingga kadang informasi tadi jadi kehilangan nilainya. Baru sebentar saya merasa bangga karena sudah mempelajari sebuah pengetahuan baru yang jarang diketahui orang, tiba-tiba dalam waktu sekejap apa yang saya tahu ternyata orang lain juga sudah banyak yang tahu. 

Saya yakin anda pasti merasakan apa yang saya rasakan. Setiap saya main ke toko buku, saya selalu dibuat gemes dengan banyaknya buku-buku bagus yang baru terbit padahal buku-buku yang saya beli beberapa bulan lalu saja masih antri dan belum sempat terbaca. Belum lagi di dunia maya, saat anda membuka facebook atau twitter misalnya, anda akan digoda sekian banyak link yang membuat anda penasaran untuk mengetahui isinya. Tidak terasa informasi-informasi tadi berjejal di pintu otak kita menuntut untuk mendapat prioritas dan perhatian. Apalagi kalau anda seorang akademisi atau praktisi di bidang tertentu. Jurnal-jurnal ilmiah dan informasi-informasi baru salip menyalip mengacaukan pakem dan kemapanan yang sudah lama anda pegang. 
Beberapa tahun lalu saya pernah membaca sebuah artikel yang mengatakan bahwa hari ini ilmu pengetahuan berkembang dua kali lipat (double) setiap 2,5 tahun. Artinya (kalau boleh saya tafsirkan secara bebas), seorang sarjana S1 yang lulus dengan IPK Cum laude dan memutuskan berhenti menjadi seorang pembelajar, akan menjadi orang yang setengah bodoh 2,5 tahun kemudian. 

Tidak heran Alvin Tofler sampai bilang “The illiterate of the 21 st century will be not be those who can not read and write, but those who can not learn, unleran and relearn”. Menurutnya di era ini kita dituntut untuk gila belajar, lalu ‘membuang’ apa yang sudah kita pelajari (hal-hal yang usang), untuk kembali belajar hal baru. Siklus ini terintegrasi. Tidak cukup learn saja, tapi harus un-learn dan kemudian re-learn. Terbanyangkan bagaimana kita harus bersiap diri menjadi manusia pembelajar seumur hidup kita. 

Sayangnya, banyak dari kita yang menghadapi era kaget informasi ini hanya sebagai pendulang berlian seperti pada cerita hujan berlian diatas. Kita ‘menyerok’ semua informasi yang masuk tanpa membarengi kemampuan kita mencerna dan mengolahnya dengan baik, apalagi mampu menciptakan peluang baru dari informasi tadi. Kita tidak punya sistem alarm tentang mana informasi yang efektif mana yang tidak. Jadilah kita sekumpulan ‘konsumen informasi’ yang tidak berdaya dihantam badai informasi. Disatu sisi kita bisa cepat mendapatkan banyak ide baru, namun di sisi lain kita juga menjadi orang-orang yang cepat bosan dengan ide tersebut sebelum berhasil mengolahnya menjadi sesuatu yang bernilai tinggi.  Kita kehilangan ketekunan untuk mempelajari sesuatu secara mendalam hingga tuntas dan mudah berpindah-pindah fokus. Inilah yang saya sebut sebagai syndrome FAST TO GET, FAST TO BORED!

Kamis, 03 Maret 2016

TAKDIR ADOLF HITLER DAN MATEMATIKA KESUKSESAN KITA

Kejadian ini terjadi pada tahun 1930 di suatu musim panas di Jerman. Sebuah kecelakaan yang dahsyat hampir saja terjadi antara sebuah mobil berpenumpang dengan sebuah truk trailer besar. Namun pengemudi trailer tadi dengan cepat bereaksi menginjak pedal rem tepat pada waktunya. Siapapun yang menyaksikan kejadian ini pasti akan menarik nafas dalam-dalam karena sedetik saja pengemudi trailer tersebut terlambat menginjak rem, mobil penumpang tadi pasti akan tergilas habis dan kemungkinan besar penumpang di dalamnya akan tidak berbentuk lagi. 

Sekilas tidak ada yang istimewa dari cerita ini. Namun apa yang anda pikirkan jika saya katakan bahwa orang yang duduk di baris depan mobil berpenumpang tadi adalah Adolf Hitler, orang yang dua tahun setelah kejadian ini menjadi peguasa Jerman dan menyulut terjadinya perang dunia yang dahsyat. Tanpa sadar, respon cepat sopir trailer tersebut telah mempengaruhi sejarah dan wajah peradaban dunia yang kita tinggali hingga saat ini.

Cerita diatas menggambarkan bagaimana sebuah kejadian yang diluar kendali kita bisa mempengaruhi masa depan kita secara dramatis. Fakta ini harusnya membuat kita lebih rendah hati dalam menjalani kehidupan, karena kita menyadari adanya kekuatan yang jauh lebih besar di luar diri kita yang mempengaruhi jalan hidup kita. Ada seorang ulama yang mengatakan bahwa “yang akan menjadi kenyataan hidup bukan apa yang kita inginkan, namun apa yang Allah inginkan”.  Bukankah kita sering merasa berusaha mati-matian namun nihil hasilnya, sedangkan pada suatu saat kita merasa biasa-biasa saja namun hasilnya tidak diduga-duga?

Namun pada kenyataannya kita sering disesatkan oleh sebuah bias berpikir . Sebut saja fundamental attribution error. Bias ini menganggap kesuksesan kita berasal dari kemampuan, ketrampilan, atau keputusan yang kita buat; sementara kegagalan disebabkan karena nasib buruk. Padahal kenyataannya, hampir semua kesuksesan dan kegagalan disebabkan oleh pertautan yang rumit dan sulit diurai antara tindakan usaha kita dan keputusan takdir. Banyak keberhasilan atau kegagalan yang sulit dijelaskan dengan teori sederhana. 

Saya sendiri sampai hari ini masih sering bingung menganalisa apa penyebab keberhasilan atau kegagalan yang pernah saya alami pada satu kejadian apalagi jika kompenen penyebab keberhasilan atau kegagalan itu saya breakdown satu per satu menjadi variabel-variabel independen. Sebagai contoh keberhasilan saya pada sebuah peristiwa katakanlah disebabkan oleh sebuah usaha A. Namun setelah saya urai lebih lanjut ternyata usaha A itu tidak bisa berdiri sendiri. Ada pertolongan orang lain yang baru saja saya kenal secara ‘tidak sengaja’ yang membantu saya melakukan usaha A tadi. Kalau tidak ada campur tangan orang ini, usaha tadi jadi tidak menghasilkan. Nah kira-kira begitulah rumitnya mengurai sebuah kejadian jika kita pecah-pecah variabelnya

Nah sekarang pertanyaannya adalah “Kalau nasib sudah menentukan kesuksesan atau kegagalan kita, mengapa kita perlu belajar?” Jawabannya sederhana, kejadian di dunia ini tidak terjadi dalam logika biner atau angka nol dan satu. Kejadian di dunia ini terjadi dengan logika probabilitas atau hukum kemungkinan. Inilah hukum alam atau Sunatullohnya! 

Belajar dalam hal ini berfungsi meningkatkan probabilitas kita untuk sukses dan mengurangi dampak negatif bila takdir memutuskan cerita yang lain. Artinya, belajar tidak memastikan anda sukses, tapi bisa meningatkan kemungkinan sukses anda. Seberapa besar persisnya kenaikan kemungkinan sukses kita karena belajar? Tidak ada yang tahu karena itu wilayah ketuhanan. 

Pada suatu kejadian mungkin orang yang yang belajar 70% kalah melawan orang yang belajarnya hanya 30%. Namun probablilitas akan memihak orang yang belajar 70%, bila kejadian yang sama diulang beberapa kali. Semakin sering kejadian yang sama diulang, semakin besar probabilitas memihak anda. Nah sekarang mungkin anda berpikir, bagaimana jika saya tidak bisa mengulang peluang yang sama terjadi berkali-kali? Disinilah kelebihan orang-orang yang selalu belajar, mereka akan mampu menciptakan peluang-peluangnya sendiri!

Luck is what happens when preparation meets opportunity“? - Seneca